Waspada Peningkatan Kasus Avian Influenza

Daftar isi

Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga mendukung bibit penyakit yang ada di lingkungan berkembang dengan baik. Kondisi cuaca juga mempengaruhi pola penyakit yang terjadi di peternakan unggas. Kondisi yang lembap pada musim hujan, saat pancaroba dan kemarau basah menjadi pemicu bibit penyakit cepat berkembang dan menyebar dengan cepat. Perubahan cuaca yang tidak menentu ini dapat menyebabkan ayam stres sehingga lebih rentan terserang penyakit.

Demikian juga tren penyakit Avian Influenza (AI) yang marak muncul di saat musim penghujan hingga pancaroba. Hal ini tentu mengharuskan peternak menjadi lebih peka dan teliti terkait serangan penyakit dan penanganan di lapangan mengingat kerugian yang disebabkan penyakit AI cukup besar. Seperti mortalitas (tingkat kematian) dan morbiditas (tingkat kesakitan) yang tinggi, penurunan produksi telur hingga 40%, angka culling yang tinggi, peningkatan biaya pengobatan dan desinfeksi serta rentan terhadap penyakit lain.

Tren Penyakit AI di Lapangan

Sejak awal ditemukannya di Indonesia pada akhir tahun 2003, hingga kini kejadian kasus AI masih dijumpai pada peternakan unggas seperti ayam pedaging (broiler), petelur (layer), pembibit (breeder), pejantan, joper, itik, puyuh dan unggas lainnya. Dimana kejadian AI tersebut hingga 2024 secara persentase didominasi pada ayam petelur (Grafik 1).

Berdasarkan data dari Medion Disease Incidence tahun 2024, kejadian penyakit AI meningkat di musim penghujan yakni di awal dan akhir tahun. Seperti yang ditunjukkan pada Grafik 1 kejadian penyakit meningkat pada bulan Januari, Februari dan Desember. Perlu menjadi perhatian juga bahwa tren kasus AI yang awalnya banyak muncul pada musim penghujan, namun data terakhir menunjukkan kejadiannya naik pada musim kemarau. Seperti yang ditunjukkan pada grafik 2 adanya peningkatan kasus AI pada bulan Juni dan Juli.

Peningkatan kasus terutama pada ayam petelur dapat terjadi akibat stres internal yang tinggi terutama pada umur awal sd puncak produksi (fase kritis dalam pemeliharaan ayam layer). Apabila pada fase kritis tersebut ayam mengalami stress eksternal yg disebabkan karena praktik biosecurity dan manajemen pemeliharaan kurang baik yang dapat memudahkan penyakit bisa menginfeksi termasuk penyakit AI. Kondisi stres tersebut bersifat imunosupresan, sehingga berpengaruh terhadap level kekebalan tubuh ataupun titer antibodi.

au1 e1743125842319
au2 e1743125885602

Penyakit AI dapat terjadi pada semua umur pemeliharaan. Pada ayam petelur kasus AI ditemukan sejak ayam muda hingga ayam dewasa. Kasus mulai meningkat pada umur diatas 18 minggu dan didominasi pada umur produksi 28 hingga 55 minggu (Grafik 3). Pada ayam pedaging, kasus AI didominasi umur 3-5 minggu namun di atas 5 minggu (Grafik 4).

au3 e1743125931229
au4 e1743126009312

Secara nasional, penyakit AI pada ayam petelur masa produksi menempati ranking kedua untuk kategori penyakit viral (disebabkan oleh virus) sejak tahun 2023-2025. Seperti yang ditunjukkan pada grafik 5 kejadian kasus cukup tinggi setelah penyakit viral ND. Masih tingginya peringkat tersebut, tentu perlu mejadi perhatian bersama. Terlebih penyakit AI menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

au5 e1743126063509

Penyakit AI dikenal sebagai salah satu penyakit yang bersifat immunosupressant (menekan sistem kekebalan tubuh), sehingga memudahkan agen penyakit lain menginfeksi ayam. Berikut ini data kejadian penyakit AI tunggal ataupun kombinasi dengan penyakit lain.

au6 e1743126100284

Berdasarkan kumpulan data kasus AI di peternakan ayam petelur selama tahun 2024 hingga Januari 2025 (Grafik 6), kasus AI tunggal sebanyak 36% dan 50%. Sisanya merupakan kasus AI yang berkombinasi (koinfeksi) dengan agen penyakit lain. Kasus koinfeksi AI paling tinggi bersamaan dengan penyakit bakterial dan viral. Sisanya kasus AI koinfeksi dengan penyakit parasit dan penyakit jamur. Serta dapat pula berkombinasi dengan dan penyakit non infeksius seperti mikotoksikosis maupun heat stress.

Perkembangan Virus Avian Influenza

Seperti yang telah diketahui bersama, penyakit AI disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae, single stranded RNA dan termasuk virus beramplop sehingga sensitif terhadap semua jenis desinfektan. Masa inkubasi penyakit AI cukup pendek, mulai dari beberapa jam hingga 3 hari. Virus AI mempunyai protein permukaan penting sebagai penentu subtipe virus yang diklasifikasikan menjadi 18 hemaglutinin/ HA (H1 sampai dengan H18) dan 11 neuramidase/ NA (N1 sampai dengan N11). Protein HA berperan dalam aktifitas hemaglutinasi yakni perlekatan visus dengan reseptor dan sebagai penyatu envelope. Sedangakan protein NA berperan merusak dan melepaskan diri dari sel reseptor.

Kasus AI pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 2003. Tahun 2003 ditemukan AI H5N1 clade 2.1 kemudian di tahun 2012 ditemukan AI H5N1 clade 2.3.2.1c. Tahun 2016 ditemukan AI H9N2 dan terakhir kali ditemukan AI H5N1 clade 2.1. Berdasarkan keganasannya, AI H5N1 termasuk High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) karena memilki keganasan tinggi. Sedangkan AI H9N2 termasuk Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) karena memiliki keganasan rendah. Pada tahun 2019 dan 2021, virus AI H5N1 clade 2.3.2.1c mengalami mutasi (perubahan karakteristik protein penting pada AI yaitu Hemagglutinin dan Neuraminidase) dari waktu ke waktu. Pada tahun 2022 ditemukan virus AI H5N1 clade 2.3.4.4b pertama kali di Indonesia pada peternakan itik komersial di Kalimantan Selatan yang belum dilakukan vaksinasi AI. Tahun 2022 hingga 2024 virus AI yang dominan bersirkulasi adalah H5N1 clade 2.3.2.1c , serta sirkulasi H9N2 lineage Y280.

Pada tahun 2024 terdapat perubahan nomenklatur virus AI di Indonesia berdasarkan gen HA H5 oleh OFFLU Avian Influenza Matching (OFFLU AIM). Dimana sebelumnya H5N1 clade 2.3.2.1c kemudian menjadi H5N1 clade 2.3.2.1g. Hingga tahun 2025 virus AI yang beredar di Indonesia adalah subtipe H5N1 dan H9N2. Dimana jumlah kasus AI H5N1 masih lebih tinggi dari H9N2 (Grafik 7). Menurut data Surveillance Analyst Medion, tahun 2024 hingga bulan Maret tahun 2025 AI H5N1 clade 2.3.2.1c saat ini paling dominan ditemukan. Serta AI H9N2 yang beredar di Indonesia berdasar gen HA H9 masih masuk dalam B lineage (Y280), clade h9.4.2.5. AI H9N2 tersebut secara genetik masih sama sejak ditemukan pertama kali di Indonesia.

Karakteristik virus AI yang mudah mengalami mutasi harus selalu diwaspadai. Karena perubahan atau mutasi pada virus AI, baik mutasi pada protein HA ataupun NA dapat berdampak pada risiko kegagalan vaksinasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Medion terus aktif melakukan monitoring dan surveilans terhadap kasus yang mengarah ke penyakit AI dari berbagai wilayah di Indonesia.

au7 e1743126195641

Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi

Perubahan gejala klinis dan patologi anatomi yang ditemukan pada ayam yang terserang AI H5N1 yang berbeda clade, sangat mirip. Sehingga sulit membedakan jika hanya berdasarkan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi saja. Untuk membedakan antar clade perlu diagnosa penunjang yaitu uji laboratorium. Pengujian dilanjutkan hingga tahapan biologi molekuler dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan sequencing. Berikut contoh gejala klinis dan perubahan patologi anatomi pada kasus AI terutama H5N1. Namun perubahan berikut tidak selalu muncul pada setiap kasus secara lengkap dan jelas. Hal ini dapat dipengaruhi pula dengan kondisi kekebalan dalam tubuh ayam (bagaimana dengan riwayat vaksinasi) dan penerapan biosecurity serta penerapan manajemen pemeliharaan di peternakan.

au9 e1743126273548
Ayam lemas dan pucat
au10 e1743126306383
Jengger kebiruan
au11 e1743126335310
Merah keunguan pada kaki
au12 e1743126448615
Peradangan lemak jantung
au13 e1743126531827
Peradangan lemak abdomen
au14 e1743126626933
Dilatasi pembuluh darah otak
au15 e1743126746792
Peradangan ovarium
au16 e1743126832719
Kista oviduct
au17 e1743126950312
Ginjal bengkak
au18 e1743126973569
Peradangan proventrikulus

Diagnosa penyakit AI perlu dilakukan secara komprehensif. Mulai dari pemeriksaan anamnesa, informasi riwayat vaksinasi, pengamatan gejala klinis dan melakukan nekropsi untuk melihat perubahan patologi anatominya untuk penarikan kesimpulan arahan diagnosa. Kemudian dilanjutkan peneguhan diagnosa dengan uji laboratorium. Hemagglutinin Inhibition (HI) test bisa menjadi alternatif. Namun akan lebih akurat lagi dengan PCR dan sequencing.

Pengendalian Penyakit AI

Upaya pencegahan dan pengendalian AI yang perlu dilakukan di peternakan yaitu penerapann program vaksinasi secara tepat dan dikombinasikan dengan sanitasi dan biosecurity yang ketat serta pemberian suplementasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Sanitasi dan biosecurity

  • Penerapan 3 zona biosecurity, yaitu zona merah, zona kuning, dan zona hijau. Batasi lalu lintas orang/ kendaraan yang keluar masuk kandang. Lakukan desinfeksi baik kendaraan maupun personill yang masuk ke area peternakan.
au19 e1743127142607
Desinfeksi personil yang memasuki area peternakan
  • Lakukan kunjungan kandang yang diawali dari kandang ayam berumur muda baru menuju kandang ayam umur tua
  • Alas kaki rutin disikat karena penyelupan/penyemprotan desinfektan sajatidak mampu menembus virus yang pada sela alas sepatu
  • Melakukan sanitasi kandang dan peralatan (kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot) dengan Neo Antisep atau Medisep. Saat terjadi outbreak maka penyemprotan dilakukan setiap hari.
  • Tempat minum dicuci 2 kali sehari. Rendam tempat minum yang telah dicuci dalam Medisep minimal selama 30 menit.
  • Semprotkan larutan kapur aktif pada seluruh bagian dalam kandang seperti lantai dan tiang-tiang serta bagian luar kandang. Biarkan sampai kering.
  • Jika menggunakan litter/sekam, lakukan pergantian, penambahan dan bolak-balik secara berkala supaya kondisi litter tetap kering. Berikan Ammotrol via air minum untuk menjaga supaya feses ayam tetap kering dan mengontrol level amonia di dalam kandang.
  • Pada saat kosong kandang, pembersihan harus dilakukan menyeluruh ke setiap bagian kandang. Setelah semua peralatan dikeluarkan, kandang dibersihkan dengan detergen dan disikat, kemudian disemprot air bertekanan tinggi.
  • Ciptakan suasana nyaman bagi ayam, jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan jika memungkinkan dilakukan sistem “all in all out” dan penerapan istirahat kandang minimal 2 minggu sejak kandang sudah bersih.
au20 e1743127240683
Pembersihan dan pencucian kandang
au21 e1743127299138
Pengapuran kandang
au22 e1743127337189
Istirahat kandang selama 14 hari
  • Sanitasi air minum dengan menggunakan Desinsep untuk menekan penularan penyakit melalui air minum. Lakukan pula flushing untuk membersihkan lumut atau biofilm (dengan Bioflush) yang menempel pada pipa saluran air. Cek kualitas air minum peternakan secara berkala, minimal saat perubahan musim.
au23
Nipple tersumbat
au24 e1743127466723
Terdapat biofilm

Pelaksanaan vaksinasi secara tepat

Agar vaksinasi berhasil membentuk kekebalan atau antibodi yang optimal dan mampu melindungi ayam dari serangan AI, perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  • Sebelum divaksin, ayam berada dalam kondisi sehat dan tidak dalam kondisi imunosupresi (contohnya stres atau terserang penyakit CRD, Gumboro, mikotoksin, dll.) yang dapat mempengaruhi pembentukan titer antibodi.
  • Untuk membentuk kekebalan yang optimal, gunakan vaksin yang homolog dengan virus lapangan. Medivac AI H5N1 2.3 serta Medivac AI H5N1 & H9N2 merupakan pilihan vaksin sebagai solusi tepat dalam pengendalian AI di lapangan. Selain dari sisi kandungannya, vaksin yang tepat juga dinilai dari kualitas fisiknya. Kualitas fisik vaksin harus dalam kondisi baik, artinya segelnya masih utuh, bentuk sediaan tidak berubah, vaksin belum kadaluarsa, serta etiketnya masih terpasang dengan baik.
  • Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin selalu terkondisikan 2–8 °C. Sebelum diberikan ke ayam, jangan lupakan proses thawing. Thawing bertujuan menaikkan suhu vaksin yang sebelumnya 2–8°C mendekati suhu tubuh ayam (± 41 °C) atau sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, yaitu dengan suhu sekitar 25–27 °C. Setelah dithawing, sebaiknya vaksin tidak dimasukkan lagi ke dalam lemari pendingan/ marina cooler karena dapat menurunkan potensi vaksin.
  • Pastikan jangka waktu pemberian vaksin tepat, di mana vaksin inaktif harus habis dalam waktu 24 jam.
  • Pastikan dosis vaksin yang diberikan sudah tepat dan benar.
  • Keterampilan vaksinator harus baik agar aplikasi vaksinasi dapat dilakukan dengan benar.
  • Waktu pelaksanaan waksinasi atau program vaksinasi dapat disesuaikan dengan riwayat kasus di farm dan umur ayam yang rentan terserang AI. Pada ayam pedaging umur 3 minggu, titer antibodi maternal sudah turun dan tidak protektif lagi sehingga umur tersebut paling rawan terserang AI. Data lapangan juga menunjukkan, AI biasa menginfeksi ayam pedaging umur diatas 3 minggu sehingga vaksinasi AI pertama sebaiknya dilakukan umur 4 atau 10 hari. Pada ayam petelur vaksinasi dianjurkan 3 kali sebelum masuk masa produksi dan minimal 2 kali saat masa produksi. Agar penentuan jadwal vaksinasi ulang dapat lebih tepat, sebaiknya dilakukan monitoring titer antibodi rutin setiap bulan.
au8 e1743127756973

Pemberian suplementasi

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menekan kondisi stres serta efek imunosupresan lainnya perlu diberikan suplemen secara rutin. Berikan multivitamin (Vita Stress atau Kumavit) untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Selain itu, pemberian vitamin C dan elektrolit dalam Vita Stress dapat mengurangi dampak stres pada ayam. Berikan imunostimulan herbal seperti Imustim untuk membantu meningkatkan sistem kerja kekebalan tubuh. Pemberian Imustim sebelum dan sesudah vaksinasi bekerja dengan mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi.

Penanganan saat Terjadi Kasus AI

Dalam penanganan kasus AI, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Lakukan desinfeksi kandang untuk mengurangi jumlah virus yang ada di lapangan setiap hari dengan desinfektan Medisep, Neo Antisep, desinfeksi air minum dengan Desinsep, tebar kapur pada area jalan di sekitar kandang. Serta batasi lalu lintas orang dan kendaraan.
  • Pemberian terapi suportif dengan imunostimulan Imustim atau multivitamin Fortevit untuk meningkatkan stamina tubuh ayam.
  • Pemberian herbal yang memiliki aktivitas antivirus seperti Reduvir juga bisa diberikan untuk membantu meningkatkan kesehatan saat terinfeksi virus, serta mengurangi angka kematian.
  • Jika ada infeksi sekunder, lakukan pengobatan sesuai dengan agen penyebabnya. Pada infeksi bakterial, lakukan pengobatan dengan pemberian antibiotik Rofotyl, Neo Meditril atau obat herbal Fithera. Pada infeksi protozoa (koksidisosis) lakukan pengobatan dengan Toltradex, Amprosid atau obat herbal Fithera. Pada kasus mikotoksikosis dapat juga diberikan toxin binder Freetox.

Seperti yang diketahui bersama penyakit AI disebabkan oleh virus yang mudah mengalami perubahan, sehingga penting mengetahui perkembangan penyakit terkini untuk meningkatkan kewaspadaan di peternakan. Pengendalian penyakit dengan penerapan praktik manajemen yang baik, biosecurity yang optimal, vaksinasi menggunakan vaksin yang homolog dan pemberian suplemen merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal di peternakan.

Bagikan Berita:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Terkait

ilustrasi informasi artikel dalam Medion tidak tersedia
Berita yang anda cari tidak ditemukan

Silakan coba kata kunci lain atau jelajahi beranda kami untuk menemukan apa yang Anda butuhkan

Cari Informasi yang Anda Butuhkan