Waspada ND dan AI Mengintai Peternakan Itik

Daftar isi

Peternakan Itik

Itik merupakan salah satu jenis unggas air (waterfowls) yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber protein hewani berupa daging dan telur. Sampai saat ini, kebutuhan dari daging dan telur itik terus meningkat dan menjadikan peluang bagi peternak itik untuk mengembangkan budidayanya. Menurut Data Statistik Peternakan & Kesehatan Hewan 2024, populasi ternak unggas secara nasional pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2023 mengalami peningkatan, terutama pada itik sebanyak 36,7 juta ekor atau meningkat 33,48%. Berdasarkan data tersebut, kontribusi produksi daging itik pada tahun 2024 sebesar 33,82 ribu ton atau meningkat 2,41% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan kontribusi produksi telur itik pada tahun 2024 sebesar 236,48 ribu ton atau meningkat 18,11% dibandingkan tahun sebelumnya.

SUP1 e1742782130514
Budidaya Itik Pedaging

Meskipun budi daya itik cukup menjanjikan, namun berbagai tantangan dalam budidaya itik masih perlu diwaspadai oleh peternak. Contohnya adanya bibit penyakit dan perubahan kondisi lingkungan. Setioko, et al. (2004) menyebutkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan itik sangat dipengaruhi oleh faktor manajemen, genetik, nutrisi dan lingkungan. Apabila faktor-faktor tersebut tidak terpenuhi sesuai kebutuhannya, maka dapat berisiko terhadap performa itik dan serangan penyakit. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), prediksi curah hujan pada bulan April 2025 masih cukup tinggi. Musim hujan merupakan musuh utama dalam budidaya peternakan itik. Kondisi lingkungan tersebut secara alami dapat menyebabkan stress dan menurunkan daya tahan tubuh itik terhadap penyakit. Beberapa penyakit yang sering ditemukan pada itik adalah Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND).

SUP2 e1742782208368
Prediksi Cuaca pada Bulan April 2025

Kejadian Penyakit ND dan AI pada Itik

Di Indonesia, pemeliharaan itik sudah mulai dikembangkan secara intensif. Meskipun demikian, kejadian kasus penyakit masih sering ditemukan pada peternakan itik. Berdasarkan diagnosa gejala klinis dan patologi anatomi yang dikumpulkan oleh tim Technical Education & Consultation Medion, sebanyak 15% laporan kasus penyakit pada itik disebabkan oleh agen infeksi berupa virus. Contohnya penyakit ND dan AI yang sering ditemukan pada peternakan itik. Penyakit ND dan AI menempati posisi pertama dan kedua pada ranking penyakit viral pada itik selama tahun 2021-2024 (Grafik 1).

SUP3 e1742782290690
Grafik 1. Ranking Penyakit Viral pada Itik

Peneguhan diagnosa melalui uji laboratorium juga dilakukan untuk memastikan kasus ND atau AI di lapangan. Beberapa sampel berhasil teridentifikasi positif dari pengujian PCR (Polymerase Chain Reaction) dari tahun 2021 sampai 2025 (Februari) yang tertampil pada Grafik 2. Menurut data kasus positif ND dan AI pada itik yang terkonfirmasi melalui uji PCR, jumlah sampel positif AI H5N1, H9N2 dan ND pada itik meningkat pada tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan hingga Februari 2025, sudah ditemukan beberapa sampel positif AI H5N1 pada itik. Sehingga hal ini perlu menjadi kewaspadaan bersama untuk selalu sigap supaya kasus ND dan AI tidak terjadi di peternakan kita.

SUP4 e1742782343410
Grafik 2. Data Kasus Positif ND-AI pada Itik (Terkonfirmasi dengan Uji PCR)

Penyebab Penyakit ND dan AI

Newcastle Disease (ND) atau Tetelo disebabkan oleh Avian paramyxovirus-1, yang merupakan virus beramplop dan single stranded RNA. Penyakit ND merupakan penyakit viral yang bersifat akut dan sangat mudah menular di segala kelompok umur itik dengan masa inkubasi yang cepat, yaitu antara 4-6 hari. Penyebaran penyakit ND utamanya melalui udara atau aerosol, meskipun dapat juga menyebar melalui pakan atau minum dan peralatan yang terkontaminasi. Penyakit ND dapat menyerang beberapa sistem organ yakni pernapasan, saraf, pencernaan dan reproduksi. Virus ND ini seringkali menyebabkan dampak buruk pada peternakan itik secara masif. Berdasarkan keganasannya, virus ND dibagi menjadi 4 kelompok mulai dari yang keganasannya tinggi hingga paling rendah secara berurutan yaitu ND Velogenik, ND Mesogenik, ND Lentogenik dan ND Apathogenic enterotrophic. Namun kejadian penyakit ND di Indonesia dominan disebabkan oleh ND Velogenik seperti ND Genotipe 7 (ND G7).

Avian Influenza (AI) atau Flu burung disebabkan oleh Orthomyxovirus yang termasuk ke dalam genus Influenzavirus A. Virus AI merupakan virus beramplop dan single stranded RNA. Masa inkubasi penyakit AI sangat singkat yaitu beberapa jam sampai 3 hari. Virus ini memiliki 2 protein paling penting untuk menentukan subtipe virus AI yaitu protein Hemagglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai saat ini di Indonesia dikenal 2 jenis Avian Influenza, yakni HPAI (High Pathogenic Avian Influenza) yang memiliki tingkat keganasan tinggi dan LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) yang memiliki tingkat keganasan rendah. Namun keduanya sama-sama merugikan bagi peternak. Avian Influenza yang termasuk HPAI contohnya subtipe H5N1 yang dapat menyebabkan kematian tinggi pada itik apabila penerapan program pengendalian penyakit tidak dilakukan dengan baik. Sedangkan jenis lain tergolong LPAI contohnya subtipe H9N2. Walaupun serangan tunggal oleh AI H9N2 tidak menimbulkan kematian yang tinggi, namun menyebabkan penurunan produksi dan gangguan pernapasan serta dampak imunosupresan pada itik. Efek imunosupresan ini menyebabkan penyakit lain akan mudah menyerang dan memperparah kondisi itik. Hal ini yang menyebabkan kematian meningkat pada kasus AI H9N2 karena koinfeksi dengan penyakit yang lain.

Gejala Klinis dan Patologi Anatomi pada Itik

Gejala klinis akibat infeksi ND dan AI secara umum ditandai dengan itik terlihat lesu, diare putih kehijauan dan tortikolis serta kematian tinggi. Pada kasus AI biasanya ditemukan warna mata berwarna keabu-abuan pada itik. Sedangkan perubahan patologi anatomi pada organ melalui proses nekropsi atau pembedahan ditandai dengan adanya lesi pelebaran pembuluh darah otak, radang pada proventrikulus, radang saluran pernapasan, ginjal bengkak dan perubahan pada organ lainnya. Penyakit ND dan AI seperti saudara kembar yang sulit dibedakan. Sehingga peneguhan diganosa dapat dilakukan melalui uji PCR dan dapat dilanjutkan dengan uji Sequencing untuk mengetahui karakteristik agen penyakit guna mendukung langkah pengendalian selanjutnya.

SUP5 e1742782626843
Warna mata keabu-abuan pada kasus AI
SUP6 e1742782651265
Tortikolis
SUP7 e1742782676721
Lesu dan malas bergerak
SUP8 e1742782702301
Lesi pelebaran pembuluh darah otak

Pengendalian Penyakit ND dan AI

Upaya pengendalian penyakit pada itik umumnya meliputi penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, biosecurity yang ketat, program vaksinasi yang tepat dan suportif secara rutin. Hingga sekarang memang masih jarang peternak itik yang sadar akan pentingnya vaksinasi terutama ND dan AI untuk hewan unggas ini. Vaksinasi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit dan melindungi itik dari serangan penyakit. Selain itu supaya perlindungan lebih optimal, maka perlu didukung dengan penerapan manajemen, biosecurity dan suportif. Berikut ini adalah contoh panduan umum program vaksinasi ND dan AI pada itik dan dapat disesuaikan dengan kondisi peternakan masing-masing.

SUP9 e1742783260373

Selain pelaksanaan program vaksinasi yang tepat, dalam pengendalian kasus ND dan AI diperlukan penerapan biosecurity yang ketat, manajemen pemeliharaan yang baik dan pemberian suportif, antara lain :

  • Maksimalkan penerapan 3 zona biosecurity dengan membatasi lalu lintas orang/kendaraan yang keluar masuk peternakan.
  • Rutin melakukan sanitasi kandang dan peralatan dengan desinfektan seperti Medisep/Neo Antisep.
  • Pada saat kosong kandang, pembersihan harus dilakukan menyeluruh ke setiap bagian kandang. Sela-sela kandang, dan bagian bawah dari kandang panggung juga tidak boleh lepas dari pembersihan. Setelah semua peralatan dikeluarkan, kandang dibersihkan dengan detergen dan disikat, kemudian disemprot air bertekanan tinggi. Lakukan pengapuran pada seluruh bagian dalam kandang seperti lantai dan tiang-tiang serta bagian luar kandang.
  • Menciptakan suasana nyaman bagi itik, diantaranya seperti jumlah itik dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan jika memungkinkan bisa dilakukan sistem “all in all out” dan penerapan istirahat kandang minimal 2 minggu sejak keadaan kandang sudah bersih dan terdisinfeksi.
  • Sanitasi air minum dengan menggunakan Desinsep untuk menekan penularan penyakit melalui air minum. Lakukan pula flushing untuk membersihkan lumut atau biofilm (dengan Bioflush) yang menempel pada pipa saluran air.
  • Berikan vitamin seperti Fortevit atau imunostimulan seperti Imustim untuk meningkatkan daya tahan tubuh itik terhadap penyakit.

Penanganan Saat Terjadi Kasus ND dan AI

Dalam penanganan kasus ND dan AI pada itik yang perlu dilakukan adalah memperketat biosecurity, dengan rutin melakukan disinfeksi kandang dan air minum serta batasi lalu lintas orang/kendaraan. Selain itu juga perlu melakukan seleksi dan culling itik yang menunjukkan gejala sakit parah. Pemberian suportif dengan Imustim atau Fortevit. Atasi infeksi sekunder yang muncul, jika bersamaan dengan bakteri maka dapat diberikan antibiotik seperti Neo Meditril atau Rofotyl. Pemberian herbal yang memiliki aktivitas antivirus seperti Reduvir juga bisa diberikan untuk membantu meningkatkan kesehatan itik yang terinfeksi virus, serta mengurangi angka kematian. Reduvir merupakan sediaan cair suspensi yang mengandung ekstrak Rhizoma coptidis dan Andrographis paniculata yang keduanya memiliki aktivitas antivirus alami.

SUP10
Reduvir, membantu mengatasi infeksi virus pada unggas

Berdasarkan data Tim Surveilans Medion, penyakit ND dan AI masih ditemukan di Indonesia khususnya pada peternakan itik. Hal ini tentunya dapat memberikan kesadaran pada peternak itik akan pentingnya vaksinasi ND dan AI menggunakan Medivac ND G7-AI guna mencegah penyakit tersebut. Selain itu, untuk memperoleh perlindungan yang optimal maka diperlukan kombinasi dengan penerapan biosecurity dan manajemen pemeliharaan yang baik serta pemberian suportif secara rutin.

Bagikan Berita:
Berlangganan sekarang

Update informasi terkini seputar peternakan dan hewan kesayangan.

Artikel Terkait

Cari Informasi yang Anda Butuhkan