Daftar Isi
Pertanyaan Bapak/Ibu Cakksudro – By email
Mohon penjelasannya apabila telur mulai pucat. Bolehkah penggunaan konsentrat dinaikkan? Terima kasih.
Jawab:
Terima kasih Bapak/Ibu Cakksudro atas pertanyaan yang disampaikan. Kualitas kerabang menjadi salah satu parameter yang senantiasa diperhatikan oleh peternak. Produksi telur (henday) yang tinggi, tanpa diikuti dengan kualitas kerabang telur yang optimal akan mengurangi tingkat keberhasilan pemeliharaan ayam petelur. Kualitas kerabang telur yang baik dapat dinilai dari kekuatan dan warna kerabang. Hal ini ditunjukkan dari kualitas kerabang yang tidak mudah pecah atau retak dan warna coklat mengilap. Penilaian warna kerabang dapat diukur menggunakan Egg Shell Color Fan atau kipas warna kerabang telur yang memiliki skala nilai dari 1 – 15. Semakin besar nilainya maka semakin coklat warna kerabang. Kualitas warna kerabang utamanya dipengaruhi oleh genetik (strain) ayam karena ketersediaannya pigmen warna kerabang berupa Protoporphyrin IX pada saluran reproduksi. Namun, selain faktor genetik, kualitas kerabang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur ayam, kondisi stres lingkungan, ketersediaan mineral, dan dapat disebabkan oleh faktor kesehatan (penyakit).

Penyebab Kerabang Telur Pucat
Sebelum mengoptimalkan warna kerabang, kenali terlebih dahulu penyebab kerabang telur pucat. Berikut beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerabang telur pucat :
1. Umur ayam
Semakin tua umur ayam akan sejalan dengan meningkatnya ukuran telur. Ukuran telur menjadi salah satu faktor penyebab warna kerabang menjadi pucat. Hal ini terkait dengan ketidakseimbangan antara luas permukaan kerabang dengan jumlah pigmen yang akan dideposisikan ke dalam kerabang telur (Odabasi et al., 2007; Samiullah et al., 2015).
2. Kondisi stres lingkungan
Faktor pemicu stres seperti kepadatan kandang yang tinggi, handling ayam yang kurang tepat, serta suhu dan kelembapan tinggi dapat menyebabkan pelepasan hormon stres, terutama epinefrin, yang akan mengganggu pembentukan kutikula di sel darah merah terhenti sehingga menyebabkan proses pigmentasi kerabang tidak optimal dan menghasilkan kerabang telur yang pucat (hendrix-genetics.com).
3. Ketersediaan mineral
Mineral makro (kalsium dan fosfor) maupun mikro (Fe, Zn, Mn, Cu) sangat berperan penting dalam proses pembentukan kerabang telur. Kalsium dan fosfor berperan dalam proses kalsifikasi untuk pembentukan kerabang yang tebal dan tidak mudah retak. Sedangkan mineral mikro atau trace mineral berfungsi sebagai chelate pembawa struktur pigmen Protoporphyrin IX dan sebagai penyusun dari pigmen di sel darah merah (Solomon, 1987).
4. Faktor kesehatan (penyakit)
Salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kerabang telur pucat adalah adanya infeksi Infectious Bronchitis (IB). Virus IB salah satunya dapat menyerang organ reproduksi dengan perubahan patologi anatomi berupa pelebaran oviduk yang berisi cairan bening (cystic oviduct). Apabila cystic oviduct terjadi pada saluran reproduksi bagian kiri (bagian yang berkembang) akan mengganggu proses pembentukan dan pewarnaan kerabang.

Tindakan untuk mengoptimalkan warna kerabang
Untuk mengoptimalkan warna kerabang, lakukan tindakan sebagai berikut :
1. Minimalkan risiko heat stress
Manajemen perkandangan
Atur kepadatan kandang yang bertujuan memberikan ruang gerak untuk ayam lebih besar, tidak terlalu padat, dan membuat ayam lebih nyaman. Berikan space sebesar 490-750 cm2 per ekor untuk ayam fase produksi (Hyline Management Guide, 2023). Selain itu, penting juga untuk melakukan pengaturan suhu dan kelembapan pada kondisi yang nyaman untuk ayam yaitu suhu 25-28°C dengan kelembapan relatif <70%. Apabila suhu dan kelembapan dalam kandang tinggi dapat ditambahkan kipas yang bertujuan mengeluarkan panas dan kelembapan dari kandang. Serta dapat dilakukan dengan pembuangan feses secara rutin dan bisa tambahkan paranet pada sisi kandang untuk menghalau panas matahari secara langsung.
Pemberian vitamin dan elektrolit
Pemberian vitamin seperti vitamin C dan E pada ayam yang mengalami heat stress bertujuan sebagai antioksidan, sehingga dapat menekan dampak negatif dari heat stress. Vitamin C akan melindungi dari stres oksidatif dengan cara menetralkan radikal bebas dan melindungi protein dari alkilasi (Traber et al., 2011). Selain itu, vitamin C juga dapat meningkatkan diferensiasi dan proliferasi sel T dan sel B sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh (Carr et al., 2017). Suplementasi vitamin C sebanyak 250 mg/kg pakan mampu meningkatkan laju pertumbuhan, respon imun, dan status antioksidan pada ayam (Khan et al., 2012). Sedangkan vitamin E berperan sebagai antioksidan dengan cara mencegah terjadinya inflamasi, meminimalkan kerusakan sel akibat sitotoksik yang disebabkan oleh radikal bebas, serta meningkatkan aktivitas makrofag pada ayam (Dalolio et al., 2015). Suplementasi vitamin seperti Top Mix HC yang mengandung multivitamin konsentrasi tinggi dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin saat heat stress.
Pada saat kondisi heat stress, ayam juga akan mengalami ketidakseimbangan asam basa dalam plasma darah sehingga mengakibatkan alkalosis pernapasan. Ketidakseimbangan asam-basa ini dapat dipulihkan dengan suplementasi elektrolit seperti NH4Cl, NaHCO3, NaCl atau KCl. Suplementasi elektrolit dapat dilakukan melalui air minum maupun pakan. Salah satu suplemen yang mengandung elektrolit yaitu Vita Stres.
Manajemen air minum
Ayam akan meningkatkan konsumsi air (water intake) pada saat suhu tinggi. Rasio water intake terhadap konsumsi pakan 2:1 pada suhu 21°C namun akan meningkat menjadi 8:1 pada suhu 38°C (Hyline, 2016). Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal dalam manajemen air minum:
a. Pastikan air minum yang diberikan memiliki suhu yang nyaman bagi ayam yaitu 20-24°C. Peningkatan suhu air minum lebih dari 30°C akan menurunkan water intake.
b. Berikan air minum secara adlibitum pada kandang dan atur distribusi tempat minum ayam sehingga mudah dijangkau
c. Air minum memiliki kualitas baik dan tidak tercemar
Manajemen pakan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen pakan untuk mengurangi efek heat stress:
a. Waktu pemberian pakan
Pada kondisi heat stress umumnya ayam akan menurunkan feed intake sebagai respon tubuh dalam upaya mengurangi produksi panas hasil metabolisme. Oleh karenanya, penting untuk memperhatikan feed intake agar konsumsi nutrisi dapat masuk sesuai target. Pada saat heat stress konsumsi pakan akan menurun sebesar 1,2% untuk setiap kenaikan 1°C pada suhu 22-32°C dan penurunan 5% setiap kenaikan 1°C pada suhu 32-38°C (Ranjan et al., 2019). Untuk meminimalkan resiko heat stress pada ayam sebaiknya tidak memberikan pakan pada siang hari saat kondisi suhu sedang tinggi. Hal ini bisa menyebabkan tingginya aktivitas metabolisme pencernaan dan menghasilkan panas tubuh dalam jumlah banyak. Untuk itu, manajemen yang dapat dilakukan adalah dengan memberi 1/3 pakan pada pagi hari, kemudian 2/3 pakan pada waktu menjelang sore, dan memberikan tambahan kalsium atau mineral lain yang dibutuhkan oleh ayam pada malam hari. Hal ini berkaitan juga dengan perilaku (behavior) ayam akan makan lebih banyak (60%) sebelum gelap dan makan kembali saat terang lagi (ISA Nutrition Guide, 2020).

b. Tambahkan minyak pada pakan
Penggunaan minyak dengan kandungan energi yang tinggi merupakan salah satu strategi yang efektif untuk mencegah heat stress pada ayam. Selama proses metabolisme, minyak akan menghasilkan panas metabolisme (heat increament) paling rendah, jika dibandingkan dengan protein dan karbohidrat. Penambahan minyak sebanyak 5% pada pakan saat ayam heat stress dapat meningkatkan feed intake mencapai 17% (Daghir et al., 2008; Wasti et al., 2020).
2. Lengkapi keseimbangan mineral
Sebagaimana kita ketahui, kerabang telur dihasilkan dari proses mineralisasi, yang sebagian besar (40-60%) tersusun atas kalsium. Selama bertelur, ayam membutuhkan kalsium (Ca) sebanyak 2-2,5 g untuk memproduksi satu telur. Dimana sekitar 60%-80% kalsium didapat dari pakan dan sisanya dari penyerapan tulang (Lohman information, 2024). Jika sediaan Ca di dalam tubuh ayam tidak tercukupi, maka hal ini dapat berakibat pada kerabang telur ayam yang menjadi lebih mudah retak dan lembek. Untuk mengatasi kekurangan Ca, secara sederhana dapat juga dilakukan dengan penambahan grit dalam pakan karena grit merupakan sumber kalsium yang baik. Pastikan juga bahwa asupan nutrisi cukup (terutama Ca dan vitamin D3). Penyerapan Ca dalam usus diketahui langsung di bawah kendali vitamin D3.
Mineral Feed Supplement A mengandung mineral esensial, yaitu kalsium (Ca), fosfor (P), besi (Fe),mangan (Mn), iodium (I), tembaga (Cu) dan seng (Zn). Selain mineral, Mineral Feed Supplement A juga dilengkapi dengan kandungan vitamin, yaitu D3 dan B12. Ketersediaan mineral dan vitamin dalam Mineral Feed Supplement A akan membantu meningkatkan produktivitas ayam, menghasilkan kualitas telur yang optimal, kerabang telur tebal, kuat dan berwarna coklat terang.
Selain itu, kombinasi kandungan trace minerals seperti dalam Endomix (dosis : 250-500 g/ton pakan) juga berfungsi dalam mengoptimalkan kualitas kerabang seperti warna kerabang telur. Hal tersebut dapat membantu ketika menjumpai kasus di lapangan ada penurunan kualitas kerabang telur yang tidak homogen atau pucat. Selain itu, ketika umur ayam sudah tua untuk mempertahankan warna kerabang telur, penambahan Endomix merupakan pilihan yang tepat. Hal ini karena unsur mikronutrien Fe yang terkandung di dalam Endomix berperan dalam penyusunan pigmen warna kerabang di dalam sistem peredaran darah. Sedangkan mineral lain Cu, Mn, dan Zn berfungsi sebagai pembawa dari pigmen menuju saluran reproduksi, sehingga ketika suplai mikro mineral terpenuhi proses pigmentasi kerabang optimal.

3. Kontrol kesehatan ayam
Pengendalian untuk penyakit viral paling efektif adalah melalui vaksinasi dan biosekuriti yang tepat. Selain itu, berikan supportif dan supplement untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak.